Awalnya Tari Topeng Cirebon lebih dikonsentrasikan di
lingkungan keraton. Seiring perkembangan zaman, lama-kelamaan kesenian ini
kembali melepaskan diri dan dianggap sebagai rumpun tari yang berasal dari
tarian rakyat.
Sementara itu, karena pada masa Islam tari ini lebih
diupayakan untuk penyebaran agama, maka dikemaslah pertunjukan ini menjadi
bermuatan filosofis dan berwatak atau wanda.
Pengemasan yang dimaksud adalah lebih menggambarkan
ketakwaan dalam beragama serta tingkatan sifat manusia, diantaranya sebagai
berikut:
- Makrifat (Insan Kamil) : Tingkatan tertinggi manusia dalam
beragama dan sudah sesuai dengan syariat agama.
- Hakikat :
Pengambaran manusia yang berilmu, sehingga telah faham mana yang menjadi
hak seorang hamba dan mana yang hak sang Khalik.
- Tarekat :
Gambaran manusia yang telah hidup dengan menjalankan agama dalam perilaku
kehidupannya sehari-hari.
- Syariat :
Sebagai gambaran manusia yang memulai untuk memasuki atau baru mengenal
ajaran Islam.
Sebagai hasil budaya, Tari Topeng Cirebon mengusung
nilai hiburan yang mengandung pesan-pesan terselubung. Unsur-unsur yang
terkandung mempunyai arti simbolik yang bila diterjemahkan sangatlah menyentuh
berbagai aspek kehidupan, sehingga juga memiliki nilai pendidikan.
Aspek kehidupan dalam hal ini sangatlah bervariasi,
termasuk kepribadian, kepemimpinan, cinta, angkara murka, serta penggambaran
hidup manusia sejak lahir hingga dewasa.

Komentar
Posting Komentar